Selasa, 07 Juni 2016

Polisi Bekuk Sindikat Internasional Pencairan Uang Western Union

Kapolres Wonogiri, AKBP Ronald Reflie Rumondor (tengah) memberi keterangan kepada wartawan saat gelar tersangka dan barang bukti kejahatan pemalsuan surat di Mapolres, Selasa (7/6/2016). (Rudi Hartono/JIBI/Solopos)WONOGIRI–Menjelang dan saat Ramadan seperti sekarang ini banyak tenaga kerja Indonesia (TKI) mengirim uang untuk keluarga di kampung halaman. Uang itu sedianya untuk keperluan memenuhi kebutuhan selama Ramadan dan Lebaran. Agar transfer bisa cepat sampai ke tujuan mereka memanfaatkan layanan pengiriman dana. Salah satunya Western Union (WU) yang bekerja sama dengan Kantor Pos.
Tapi, ada saja orang yang melihat hal itu sebagai peluang untuk bertindak kejahatan. Mereka mengambil uang yang ditransfer TKI sebelum diambil si calon penerima sebenarnya. Cara-cara licik, seperti memalsukan KTP calon penerima sebenarnya pun dilakukan. Kejahatan ini terjadi di Wonogiri.
Pada 31 Mei lalu aparat Polres Wonogiri menangkap enam orang pelaku kejahatan tersebut. Mereka diduga anggota sindikat besar yang sudah beraksi sejak beberapa tahun terakhir. Tak tanggung-tanggung, aksi diduga kuat melibatkan sindikat internasional yang berada di negara tujuan para TKI, seperti Arab Saudi. Aksi mereka terbongkar setelah dua pelaku gagal mengambil dana yang ditransfer tenaga kerja wanita (TKW) di Arab Saudi melalui WU di Kantor Pos Wonogiri.
Para tersangka bersama barang bukti digelar di Mapolres Wonogiri, Selasa (7/6/2016). Para tersangka terdiri atas Heru Triono, 34, warga Megamendung RT 002/RW 006, Kelurahan Megamendung, Kecamata Megamendung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat; Adi Nugroho, 22, warga Babakan RT 002/RW 003, Kelurahan Cisalada, Kecamatan Cigombong, Kabupaten Bogor.
Tersangka lainnya Hana Sabidin, 31, warga Mura Bahari RT 013/RW 012, Kelurahan Tanjungpriuk, Kecamatan Tanjungpriok, Jakarta Utara; Deuse Fharaya, 19, warga Dekeng RT 001/RW 009, Kelurahan Genteng, Kecamatan Kota Bogor Selatan, Kota Bogor. Dua orang lainnya yakni Anap Miptahudin, 42, warga Babakan RT 005/RW 005, Kelurahan Talikolot, Kecamatan Citeureup, Kabupaten Bogor dan Anna Rahmawati, 32, warga Sima Galih RT 004/RW 002, Kelurahan Harjasari, Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor.
Kapolres Wonogiri, AKBP Ronald Reflie Rumondor, menyampaikan kali pertama polisi menangkap Anap dan Adi di Kantor Pos Wonogiri yang kala itu berupaya mencairkan dana transfer dari TKW di Arab Saudi. Sedianya uang itu untuk keluarga pengirim di Wonogiri. Pelaku mencairkan uang itu berbekal KTP palsu berfoto wajah Anap dengan alamat Wonogiri sesuai identitas calon penerima sebenarnya dan money transfer control number (MTCN) atau nomor PIN.
Petugas merasa ada yang tidak beres lantaran jawaban Anap saat ditanya petugas kantor pos di mana dilahirkan dan kapan dilahirkan tidak meyakinkan. Terlebih, saat ditanya menggunakan bahasa Jawa, pelaku mengaku tidak bisa berbahasa Jawa. Curiga dengan hal itu lalu petugas diam-diam ke melapor kepada atasan dan polisi. Tak berselang lama polisi datang dan langsung membekuk keduanya.
“Setelah didalami ternyata ada empat rekan mereka lainnya yang melarikan diri menggunakan mobil minibus. Petugas lalu mengejar hingga akhirnya bisa menangkap keempatnya di Eromoko,” ucap Kapolres didampingi para pejabat polisi lainnya.
Menurut pengakuan para tersangka, lanjut dia, mereka sudah beraksi sebanyak 31 kali selama tiga bulan terakhir. Sebelum tertangkap mereka beraksi di Manyaran dan Pracimantoro, Wonogiri dan berhasil mengambil uang Rp40 juta. Selain itu mereka juga beraksi di Klaten. Menurut Kapolres para tersangka merupakan anggota sindikat besar yang melibatkan orang di negara-negara tempat TKI bekerja.
Diduga orang-orang tersebut berperan sebagai kurir atau calo yang dikenal pengirim uang. Dengan cara tertentu pelaku di negara itu bisa mendapatkan MTCN dan identitas calon penerima uang. Selanjutnya pelaku menginformasikannya kepada sindikat di Indonesia. Kemungkinan lain ada keterlibatan pegawai layanan transfer.
“Kami belum bisa pastikan siapa pengirim nomor PIN [MTCN] dan identitas calon penerima uang. Kami akan mendalami lagi,” kata Kapolres.
Salah satu tersangka, Heru, mengaku tidak banyak tahu ihwal kejahatan kelompoknya. Dia mengaku hanya dimintai tolong seorang warga Bogor berinisial Jn untuk mengantar lima tersangka lainnya ke Klaten dan Wonogiri.
Kepala Kantor Pos Wonogiri, Da’wah Iqbal Kurniadhy, menduga para pelaku merupakan anggota sindikat internasional. Mereka terorganisasi dan menggunakan modus tertentu sehingga bisa mendapatkan identitas calon penerima dan MTCN yang sejatinya hanya diketahui pengirim dan calon penerima. MTCN dan identitas calon penerima itu lah kunci untuk mengambil uang yang ditransfer pengirim melalui WU.
“Calon penerima bisa mengambil uang, pertama kali harus mengisi formulir yang berisi identitas dirinya dan pengirim, alamat dia, dan jumlah dana yang akan diterima. Setelah itu calon penerima menyerahkan MTCN, KTP asli, dan foto kopi KTP. Orang yang mengetahui MTCN dan identitas calon penerima adalah pengirim. Calon penerima mengetahui MTCN bisa atas pemberitahuan pengirim melalui berbagai alat komunikasi. Data-data yang diserahkan calon penerima harus sama dengan data yang telah tersimpan di sistem,” ulas lelaki yang biasa disapa Iqbal itu.
Dia tidak mau berspekulasi mengapa sampai akhirnya MTCN dan identitas calon penerima diketahui orang lain selain pengirim dan calon penerima. Dia bersyukur akhirnya polisi bisa menangkap para pelaku. Menurut Iqbal kejahatan para pelaku kejahatan besar. Informasi yang didapatnya dari kantor pos pusat, kejahatan serupa pernah terjadi di Padang dan Gunung Kidul, DIY. Namun, para pelaku selalu bisa melarikan diri. Hingga akhirnya kantor pos pusat menyebarkan belasan foto orang yang diduga kuat sebagai anggota sindikat kejahatan pengambil uang transferan ke kantor pos daerah-daerah, sejak beberapa tahun terakhir.
“Petugas kami untungnya jeli. Sebelum memproses pencairan uang, petugas menanyakan dulu seluk beluk lelaki yang akan mengambil uang. Saat itu pula petugas teringat dengan foto-foto yang dikirimkan kantor pusat. Saat dicek, wajah orang yang mau mengambil uang sama dengan foto yang beredar. Lalu petugas melapor kepada saya lalu kami melapor ke polisi,” kata Iqbal.

Jumat, 03 Juni 2016

Waspada..! Ini 6 Wilayah Rawan Bencana Di Wonogiri

Ilustrasi angin kencangWONOGIRI–Enam kecamatan di Wonogiri masuk daerah rawan bencana. Jenis bencana yang rawan terjadi adalah tanah longsor, angin ribut, banjar dan kebakaran.
Keenam kecamatan tersebut adalah Jatiroto, Manyaran, Tirtomoyo, Selogiri, Kismantoro dan Karangtengah. Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Wonogiri, Bambang Haryanto, mengatakan semua wilayah di Wonogiri memungkinkan terjadi bencana. Baik tanah longsor, angin ribut maupun kebakaran.
“Hanya berdasarkan hasil rencana kontinjensi (rekon) untuk menghadapi ancaman bencana, wilayah-wilayah tersebut dinilai paling rawan,” kata dia, Kamis (2/6/2016). Dari tahun ke tahun, di wilayah tersebut sering muncul kejadian bencana alam.
Di sisi lain dia mengatakan selama 2016 dari Januari hingga Mei, telah terjadi bencana tanah longsor sebanyak 49 kejadian. Kejadian terbanyak terjadi di Kismantoro sebanyak 12 kejadian. Wilayah lain yang juga terjadi bencana tanah longsor adalah Wonogiri, Girimarto, Jatisrono, Slogohimo, Purwantoro, Bulukerto, Puhpelem, Tirtomoyo, Karangtengah, Batuwarno, Giriwoyo, Eromoko dan Manyaran. Musibah banjir terjadi sebanyak enam kejadian.
Lokasinya berada di Jatisrono, Kismantoro, Baturetno, Giriwoyo dan Wuryantoro. Musibah angin ribut terjadi sebanyak 33 kejadian. Bencana itu terjadi hampir di semua kecamatan, kecuali Selogiri, Jatipurno, Slogohimo, Bulukerto, Puhpelem, Tirtomoyo, Karangtengah, Giritontro dan Paranggupito. Sedangkan kebakaran terjadi sebanyak tujuh kejadian. Musibah tersebut terjadi di Wonogiri, Slogohimo, Tirtomoyo, Pracimantoro, dan Eromoko.
Peristiwa tersebut menimbulkan kerugian materiil sekitar Rp3 miliar. Kerugian yang ditimbulkan dari tanah longsor senilai Rp2.593.000.000. Musibah banjir menimbulkan kerugian senilai Rp148.400.000. Musibah angin ribut menimbulkan kerugian senilai Rp378.500.000. Sedangkan musibah kebakaran menimbulkan kerugian sebanyak Rp280.000.000.
“Banyak rumah warga yang terdampak musibah tanah longsor dan angin ribut, sehingga banyak yang rusak,” kata dia tanpa memperinci jumlah rumah warga dan bangunan lain yang terdampak bencana.
Bupati Wonogiri, Joko Sutopo, melalui Asisten Perekonomian Pembangunan dan Kesejahteaan Rakyat Sekretariat Daerah Wonogiri, Bambang Haryadi, mengatakan bencana tidak bisa diprediksi. Namun sebagai salah satu upaya antisipasi dibutuhkan langkah konkret yaitu mengupayakan pengurangan risiko dampak bencana.
“Salah satu caranya melalui peningkatan kemampuan SDM dalam penanggulangan bencana. Menurut indeks rasio bencana Indonesia yang dikeluarkan BNPB tahun 2013, Wonogiri mendapat skor 146 dengan klasifikasi tinggi. Ini mendorong Pemerintah Kabupaten Wonogiri untuk berupaya melindungi warga agar terhindar dari risiko yang timbul. Namun perlu dukungan semua pihak termasuk masyarakat,” kata dia
via solopos.com